Metaranews.co, Kediri – Suasana khidmat menyelimuti sebuah Sanggar Aji Laras di Dusun Kunir, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Minggu (12/7/2026).
Ratusan warga memadati lokasi untuk menyaksikan pagelaran wayang ruwatan yang digelar bertepatan dengan Bulan Suro atau Muharam 2026.
Tradisi ruwatan massal yang dipimpin dalang Ki Browdianto itu diikuti 67 peserta dari berbagai daerah di Kabupaten Kediri. Mereka mengikuti serangkaian ritual sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon keselamatan, kesehatan, kelancaran rezeki, serta perlindungan dari berbagai kesialan atau sukerta.
Berbagai sesaji turut disiapkan panitia, mulai dari tumpeng, jajanan pasar, kembang setaman, pisang raja, hingga aneka bumbu dapur. Seluruh sesaji tersebut menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan nikmat dan karunia.
”Sesaji atau sajen itu bentuk rasa syukur, kita sajikan makanan dan buah atas limpahan nikmat dan karunia Tuhan selama setahun ini,” terang Ki Browdianto.
Peserta juga diwajibkan membawa kain mori putih sepanjang satu meter serta jenang merah dan putih sebagai bagian dari prosesi ruwatan.
Rangkaian ritual diawali dengan penyematan kalung bunga oleh orang tua dalang, dilanjutkan pagelaran wayang dengan lakon Murwakala.
Usai pagelaran wayang kemudian acara disambung dengan doa bersama, pelepasan burung dan sejumlah hewan peliharaan.
Pada acara inti, peserta ruwatan mengikuti prosesi pemotongan sebagain rambut yang kemudian dilanjutkan dengan siraman.
Dalam ritual tersebut juga digunakan air yang dihimpun dari 11 sumber mata air di wilayah Kabupaten dan Kota Kediri, serta dari Patirtan Situs Gunung Padang, Jawa Barat, Patirtan Tirta Empul di Bali, dan Laut Selatan. Air tersebut menjadi simbol permohonan berkah, keselamatan, dan belas kasih Tuhan Yang Maha Esa.
Menurut Ki Browdianto, ruwatan bukan sekadar tradisi budaya, melainkan doa bersama agar setiap orang terbebas dari sukerta yang diyakini telah melekat sejak lahir.
”Ruwatan bertujuan membersihkan sukerta melalui doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Harapannya seluruh peserta diberi keselamatan lahir batin, kesehatan, kelancaran rezeki, serta kehidupan yang lebih baik,” ujar Ki Browdianto.
Ia menjelaskan, pelaksanaan ruwatan massal tidak dipungut biaya. Peserta hanya diminta membawa kain mori, jenang merah dan putih sebagai perlengkapan prosesi. Menurutnya, kegiatan tersebut kembali digelar karena tingginya antusiasme masyarakat setelah pelaksanaan sebelumnya.
”Kita gelar lagi ruwatan karena banyak yang ingin mengikuti ruwatan. sebelumya kita gelar dua tahun lalu,” jelasnya.
Salah seorang peserta, Zevita Vallent (43), warga Kecamatan Banyakan, mengaku kembali mengikuti ruwatan ke tujuh kalinya karena merasakan perubahan positif setelah mengikuti kegiatan serupa pada tahun sebelumnya.
”Saya mengikuti ruwatan untuk ke tujuh kalinya. Alhamdulillah setelah mengikuti ruwatan tahun lalu, kehidupan saya menjadi lebih baik. Tahun ini saya berharap diberikan keselamatan, keberkahan, dan kehidupan yang semakin baik,” ungkapnya.
Selain menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa pada Bulan Suro, pagelaran wayang ruwatan juga menjadi upaya melestarikan warisan budaya sekaligus mempererat kebersamaan warga melalui doa dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.






