Metaranews.co, Kota Kediri – Taman Baca Mahanani, Kota Kediri, menggelar “Mahanani Book & Art Festival 2026”, dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional yang diperingati setiap 17 Mei.
Festival tahunan yang memasuki tahun ketiga ini berlangsung pada Sabtu-Minggu (16-17 Mei 2026), di Kompleks Taman Baca Mahanani, Kediri, Minggu (17/5/2026) malam.
Tahun ini, Book & Art Festival 2026mengusung tema “Merekam Orang-orang Biasa”, sekaligus menjadi bentuk penghormatan atau Tribute to Iman Budhi Santosa.
Melalui tema tersebut, Taman Baca Mahanani menegaskan komitmennya menghadirkan ruang literasi yang berpihak kepada wong cilik.
Festival ini juga menjadi ruang bagi masyarakat akar rumput untuk merekam eksistensi diri, saling peduli, serta berdaya melalui literasi dan seni.
Koordinator Acara Mahanani Book & Art Festival 2026, Fadinka Addin, mengatakan tema yang diangkat tahun ini merupakan kelanjutan dari fokus festival pada tahun-tahun sebelumnya.
“Tahun pertama mengadakan event ini kita sudah mengangkat isu pentingnya membaca. Lalu tahun lalu kita mengusung Bukumu Budayamu,” jelasnya.
“Nah, tahun ini kita perlu mengangkat tema yang menarik sekaligus berpihak. Oleh karenanya, Merekam Orang-orang Biasa kami usung,” lanjut Fadinka.
Menurut Fadinka, tema tersebut juga merefleksikan latar belakang para pegiat literasi yang terlibat dalam festival.
“Hal itu tak luput dari teman-teman pegiat literasi di sini pula yang keseluruhannya adalah orang-orang biasa. Mulai dari pelajar, mahasiswa, guru honorer, petani, ojol, akademisi, hingga pekerja lepas,” tuturnya.
“Pokoknya pegiat di sini itu dari berbagai macam latar, dan tentunya tak ada yang mentereng alias semua adalah orang-orang biasa, wong cilik,” imbuh Fadinka.
Rangkaian kegiatan festival dimulai sejak pra-acara bertajuk “Nrutus” pada 9 Mei 2026.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak berjalan kaki menyusuri gang-gang di Kota Kediri untuk merekam dan berinteraksi langsung dengan kehidupan masyarakat setempat.
Pada hari pertama festival, 16 Mei 2026, digelar sesi “Berani Goblok” yang menjadi ruang bedah buku karya-karya mendiang Iman Budhi Santosa.
Sementara pada 17 Mei 2026, festival menghadirkan panggung Performance Art yang menampilkan kolaborasi lintas seni dari Sanggar Wasesa, UKM Seni Segara, Teater Kanda, Teater Pitulikur, dan Sanggar Tari Dworowati.
Selain itu, festival juga menghadirkan pameran foto tentang profesi orang-orang biasa, ruang baca terbuka dengan buku gratis, hingga “Angkringan Puisi”.
Di ruang tersebut, pengunjung dapat menikmati gorengan atau minuman dengan “membayar” melalui pembacaan puisi.
Malam puncak festival turut dihadiri mantan Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar, Ferry Silviana Feronica atau Bunda Fey beserta anak-anaknya, pegiat seni, komunitas, dan pegiat literasi dari Kediri dan sekitarnya.
Dalam kesempatan itu, Abdullah Abu Bakar mengapresiasi ruang alternatif yang dihadirkan Mahanani di tengah perkembangan teknologi digital.
“Saya sangat senang sekali dengan acara ini, di mana sekarang ini banyak orang tua ataupun guru menormalisasi memberikan gadget pada anak-anaknya,” paparnya.
“Di sini anak-anak dan semua orang diberi ruang untuk membaca seluas-luasnya. Acara kali ini bisa membuat anak-anak lebih berkembang secara lebih luas,” terang Mas Abu, sapaan karibnya.
Senada dengan itu, Ferry Silviana Feronica mengaku merasakan atmosfer kebudayaan yang kuat selama festival berlangsung.
“Selamat untuk Mahanani yang sudah mengadakan Mahanani Book & Art Festival yang ketiga kalinya. Saya sangat senang karena anak saya menjadi bagian dari acara malam ini,” ucap Ferry.
“Jadi bersyukurlah teman-teman semua. Malam ini saya merasa tidak di Kediri, tapi déjà vu saat saya kuliah di Jogja dulu,” ungkapnya.
Sementara itu, Pembina Asrama Al-Furqon dan Teater Pitulikur dari Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang, Syaiful Anam, menilai festival tersebut mampu menciptakan ruang belajar yang aman dan mendukung perkembangan anak.
“Perayaan Hari Buku Nasional seperti di Mahanani ini sebuah pelajaran yang luar biasa. Dengan ini, anak-anak dan tentunya kita semua dapat mengoptimalkan potensi serta bakatnya masing-masing,” jelasnya.
“Dari pertunjukan-pertunjukan tadi, misal, kita ditunjukkan bahwa anak harus diberi ruang belajar yang psychological safety, sehingga anak-anak bahkan orang dewasa tidak memiliki rasa takut untuk salah,” urai Syaiful.
Mahanani Book & Art Festival 2026 terlaksana melalui kolaborasi dengan sejumlah komunitas dan mitra media, di antaranya LPM Dedikasi, Tim Media IPNU IPPNU Kabupaten Kediri, Koalisi Masyarakat Sipil Pegiat Literasi.
Kemudian Metafor.id, Ruang Mengarsip, dan Kreasi Pelajar NU. Festival ini juga mendapat dukungan dari Kampung Dongeng Kediri dan Sekolah Alam Ramadhani.
“Dengan slogan yang masih ajeg, Bukumu Budayamu, kami berharap buku bisa membudaya dan slogan itu bisa beralih rupa menjadi laku kita semua. Semoga hal-hal semacam ini tak hanya jadi peringatan tahunan, semoga,” pungkas Fadinka.






