Brug Over Den Brantas te Kediri dari Masa ke Masa, Jembatan Besi Tertua di Dunia yang Kini Berusia 154 Tahun

Brug Over Den Brantas te Kediri
Caption: Jembatan Lama Kota Kediri. Doc: cagarbudayajatim.com

Metaranews.co, Kota Kediri – Kota Kediri mempunyai bangunan cagar budaya tingkat nasional yakni Jembatan Lama Kota Kediri, atau yang dahulu dikenal dengan nama Brug Over Den Brantas te Kediri.

Sejarah mencatat, Jembatan Lama Kota Kediri merupakan salah satu konstruksi jembatan besi tertua di dunia. Jembatan ini diresmikan pada 18 Maret 1869, dan kini bakal berulang tahun ke-154 pada Sabtu (18/3/2023).

Bacaan Lainnya

Juru Pelihara Jembatan Lama Kota Kediri, Imam Mubarok menerangkan, secara fungsi dan fisik Brug Over Den Brantas te Kediri sudah mengalami perubahan. Tapi hal itu tak mengubah bentuk konstruksi besi jembatan sampai sekarang.

Menurut Gus Barok, sapaan Imam Mubarok, perencanaan pembangunan jembatan ini telah dimulai sejak tahun 1855.

Adapun desain Jembatan Lama Kota Kediri ini dibuat oleh Kapten Sytze Westerbaan Muurling.

Pengerjaan jembatan ini memerlukan waktu yang cukup lama, sekitar 19 tahun. Pada masanya jembatan ini menjadi satu-satunya penghubung utama antarprovinsi di era pemerintahan Hindia Belanda.

Brug Over Den Brantas te Kediri sendiri menjadi saksi bisu sejumlah peristiwa penting di dunia, seperti pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard pada 7 Januari 1937.

“(Waktu itu) jembatan dihiasi dengan berbagai lampu hias dari ujung hingga ke ujung, untuk menyambut pernikahan agung sang putri dan pangeran,” papar Gus Barok.

Dalam berbagai koleksi foto “Kediri’s Photograph Museum” di Jl Kapten Tendean No 66 Ngronggo, Kota Kediri, juga digambarkan beberapa kali jembatan ini diterjang derasnya aliran Sungai Brantas, dan yang paling parah adalah pada tahun 1954 pagar-pagarnya roboh.

Namun karena konstruksinya yang kuat, menjadikan posisi jembatan ini tak bergeser sedikitpun.

Sangat dimaklumi sebagai penghubung wilayah barat dan timur Kota Kediri, jembatan ini sangat diperlukan.

Sebab, hanya jembatan inilah yang menjadi penghubung wilayah Madiun dan Surabaya di kala itu.

Jembatan ini memiliki panjang 160 meter, lebar 5,80 meter, dan tinggi dari permukaan air 7,50 meter.

Kini usia Jembatan Lama Kota Kediri telah mencapai 154 tahun. Kendati telah tua, namun jembatan ini masih berdiri kokoh menyisakan penuaaan geladak kayu.

Sempat ditutup akibat Sungai Brantas yang sedang meluap, namun jembatan ini dibuka kembali untuk umum, khususnya untuk kendaraan roda dua, becak, dan pejalan kaki.

Tahapan Pembangunan Brug Over Den Brantas te Kediri

  • 16 Mei 1854 : Pemutusan Gubernemen Hindia Belanda: Jembatan berbahan batu akan dibangun berdasarkan desain seorang Kapten Zeni. Awal pekerjaan direncanakan mulai 1855, harga dinilai f 128,891,00.
  • 1855 : Pekerjaan dimulai, diajukkan keberatan terhadap rencana pembangunan oleh insinyur kepala dari Waterstaatsafdeeling Soerabaia (Dinas Pekerjaan Umum Unit SSoerabaia). Karena tiang batu yang besar diduga mengakibatkan aliran sungai terhambat, alasan tidak berlandasan.
  • September 1859 : Fondasi penopang jembatan bagian barat selesai dibangun.
  • Juli 1861 : Pasangan paku bumi di tengah sungai macet, karena dialami kesulitan teknis. Anggaran dilampaui sudah f 73.000,00, pekerjaan dihentikan.
  • 1 Mei 1862 : Disain alternatif oleh Insinyur Sytze Westerbaan Muurling : Jembatan berbahan besi dengan penganggaran f 230,825,00
  • 27 april 1863 : Pemborongan pekerjaan dilakukan umum di Batavia gagal.
  • 30 Desember 1863 : Pemborongan pekerjaan dilakukan di bawah tangan, gagal
  • 31 Juli 1865 : Pemborongan pekerjaan ke-3 berhasil, dengan harga f 212.000,00. Bahan pembangunan senilai f 13,152,27 dibayar oleh gubernemen.
  • 18 September 1865 : Pekerjaan jembatan besi dimulai, direncanakan selesai dalam waktu dua tahun.
  • 18 september 1867 : Batas waktu dilewati, proyek mengalami keterlambatan akibat masalah teknis.
  • 11 Maret 1869 : Pekerjaan selesai, jembatan lulus uji coba.
  • 18 Maret 1869 : Jembatan dibuka untuk umum.

Sumber data: J. van Velzen: ”De ijzeren brug over de Kediri-rivier, ter hoofdplaats van de Residentie Kediri” (dalam majalah: “Tijdschrift van het Koninklijk Instituut van Ingenieurs. Afdeeling Nederlandsch-Indië”, 1877, hal. 65-72).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *